Nyanyian Luka dari Pinggir Negeri
NYANYIAN LUKA DARI PINGGIR NEGERI
“Bait Puisi dari Tanah Retak
yang berisi Senandung Rakyat Tanpa Mikrofon”
penulis: Ali Muthohar
Di negeri yang kaya, masih banyak suara yang tak pernah sampai ke ruang-ruang pengambil keputusan. Ada tangis guru yang tertahan di ruang kelas, jerit petani yang kehilangan tanah, keluh buruh yang tenggelam dalam angka-angka statistik, hingga kegelisahan rakyat kecil yang hanya menjadi gema di sudut-sudut jalan. Ketika kritik sering dianggap ancaman dan kejujuran kalah oleh kepentingan, puisi hadir sebagai bahasa yang tak dapat dibungkam.
Nyanyian Luka dari Pinggir Negeri menghimpun 81 puisi yang lahir dari kepekaan terhadap realitas sosial, politik, hukum, pendidikan, dan kemanusiaan di Indonesia. Setiap bait bukan sekadar ungkapan kemarahan, melainkan ajakan untuk merenung; bukan sekadar kritik, melainkan harapan agar kekuasaan kembali berpihak kepada keadilan, integritas, dan nurani. Dengan metafora yang tajam, bahasa yang puitis, dan refleksi yang mendalam, buku ini mengajak pembaca menyusuri wajah negeri dari sudut yang sering luput dari sorotan.
Buku ini bukan ditulis untuk menumbuhkan kebencian kepada siapa pun. Sebaliknya, ia lahir dari kecintaan kepada Indonesia—sebuah keyakinan bahwa bangsa yang besar hanya dapat berdiri tegak apabila berani mendengar suara rakyatnya sendiri. Setiap puisi adalah nyanyian bagi mereka yang bekerja tanpa tepuk tangan, berjuang tanpa sorotan kamera, dan mencintai negeri tanpa syarat.
Jika puisi adalah suara hati sebuah zaman, maka buku ini adalah catatan tentang zaman kita. Bacalah setiap halaman dengan hati yang terbuka. Mungkin Anda akan menemukan kegelisahan yang sama, harapan yang serupa, dan keberanian untuk terus mencintai negeri ini dengan cara yang paling bermartabat: menjaga nurani agar tetap hidup.